Senin, 26 Juni 2017

MENYOAL DOA "ALLAHUMMA LAKA SUMTU"

Sejak kecil, sebelum berbuka puasa doa ini selalu saya baca dan hafalkan, bahkan mayoritas muslimin pasti hafal doa ini. Kemudian saat ini saya juga mendengar bahwa membaca doa "Allahumma laka sumtu" adalah bid'ah dan tidak boleh dibaca saat buka puasa.
Jadi bingungkan??
Sebenarnya bid'ah apa nggak sih??

Yuk kita coba cari jawabannya.

1.       Tentang derjat keshohihan hadisnya.
Hadis ini dapat kita temui pada kitab "Sunan Abi Daud" (no: 2358) dan diriwayatkan secara mursal. Dengan demikian hukum sanadnya adalah do'if karena diriwayatkan secara mursal.

Namun bagaimana komentar para ulama terhadap derjat hadis ini?
Syeikh Nashiruddin Al-Albani tak kala mengomentari hadis ini dalam kitab "Misykatul Mashobih" juz 1/ hal: 621 beliau berkata: Hadis ini memiliki syawahid yang menguatkannya.

Senada dengan Syiekh Al-Albani, Syeikh Abdul Qadir Al-Arnaout ketika mengomentari hadis ini di dalam kitab "Al-Azkar" Imam An-Nawawi, hal 190 juga mengatakan hal yang sama: Hadis ini memiliki syawahid yang menguatkannya.

Dimana saja kita dapat menemui Syawahid hadis ini?
-  Diriwayatkan oleh At-Tabrani dalam "Al-Mu'jam Al-Aushot" (no:7549) dan "Mu'jam Al-Kabir" (no: 1272).
-  Diriwayatkan oleh Ibn As-Sunni dalam "Amal Al-Yaum wa Al-Lailah" hal 430.
Dengan penguat-penguat ini sebagian ulama menghukumi hadis secara keseluruhan dengan "Hasan lighairih" yang berarti boleh diamalkan.

2.Anggap saja ada sebagian orang tidak setuju dengan hukum akhir dari hadis di atas, kemudian bagaimana komentar para ulama tentang kebolehan mengamalkannya doa "Allahumma laka sumtu" meski derjatnya Do'if?

- Syeikh Bin Baz saat ditanya hukum berdoa dengan doa ini beliau menjawab: "Tidak mengapa" seseorang berdoa dengan doa tersebut atau doa-doa yang lain. Sebab waktu berbuka puasa adalah waktu dimana doa diijabah, maka seorang mukmin disunnahkan untuk memperbanyak berdoa yang dicontohkan Nabi SAW ataupun tidak dicontohkan. Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=BGyF4x962BA

- Syiekh Solih Al-Maghamisi, Imam mesjid Quba, tak kala tentang hadis ini beliau berkata: Tidak mengapa seseorang berdoa dengan doa ini. Walau secara sanad hadisnya do'if, namun secara isi dan matan hadisnya shohih. Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=ZPUziaKwyXM

Jadi kesimpulannya?

1. Disunnahkan memperbanyak berdoa pada saat berbuka puasa dengan doa "Allahumma laka sumtu…" atau " Zahabaz zomau wabtallatil uruqu…" atau dengan doa-doa yang lain walau tidak dicontohkan oleh Nabi SAW lafaznya.
2. Jika melihat penilaian dari Syeikh Al-Albani dan Syeikh Al-Arnauot, maka hadis ini naik menjadi "Hasan lighairihi" yang dengan demikian boleh diamalkan dan bukanlah sebuah hal yang bid'ah.
3.  Tata cara berdoa adalah:
Pertama baca "bismillahirrohmanirrohim" kemudian mulai berbuka dengan kurma atau air. Kemudian setelah selesai iftor, baru membaca doa-doa di atas atau doa yang lain. Mau minta ampunan dan taubat –boleh-, mau minta rizki yang banyak –boleh-, mau minta jodoh –juga boleh-.

Wallahualam.

I'TIKAF WALAU SESAAT

Takkala pintu Mesjid dibuka, terlihat sebuah tulisan yang cukup besar berbahasa Arab di dinding sebelah kanan Mesjid At-Ataqwa "Saya niat I'tikaf selama saya berada di dalam Mesjid". Tulisan itu merupakan pengingat bagi para jamaah agar setiap kali ia hendak memasuki Mesjid, ia memasang niat I'tikaf selama di dalam Mesjid, sehingga keberkahan berada di dalam Mesjid tidak sia-sia.

Dalam kitab-kitab "Qowaid Fiqhiyah" pada Bab Niat, hal ini sering kali dicontohkan. Seseorang masuk Mesjid bisa jadi hanya untuk sekedar beristirahat dari lelahnya pekerjaan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan yaitu istirahat. Namun disisi lain jika seseorang memasuki Mesjid dengan niat I'tikaf meskipun dia dalam keadaan lelah sehingga dapat beri'tikaf sembari beristirahat, maka ia mendapatkan pahala I'tikaf dan melepas lelah sekaligus. Inilah salah satu esensi dari niat itu, membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah yang akhirnya akan berpengaruh kepada nilai.

Berapa lama seseorang mesti di dalam Mesjid sehingga dihitung sebagai I'tikaf?
Salah satu dari syarat I'tikaf adalah berdiam diri di Mesjid walaupun sejenak. Jika seseorang misalkan masuk Mesjid kemudian duduk sebentar, maka itu telah dihitung sebagai I'tikaf selama ia meniatkannya. Mudah bukan….

Maka mari raih kemuliaan dan keberkahan bulan Ramadhan dengan selalu memasang niat I'tikaf setiap kali kita masuk Mesjid. Para pegawai kantoran yang beristirahat di siang hari dan melepas lelah di dalam Mesjid, pasang niat I'tikaf, para pedagang saat istirahat sholat dan masuk Mesjid, pasang niat I'tikaf, para pejalan kaki tak kala merasakan lelah, masuk Mesjid dan pasang niat I'tikaf.

Semoga kemuliaan bulan yang agung ini bisa kita raih dengan sempurna, sehingga saat keluarnya kita dari bulan yang mulia ini, kita berada dalam kesucian fitrah lahir dan batin. 

MENANTI RAMADHAN

Menanti hadirnya Ramadhan itu, ibarat menunggu kehadiran seorang kekasih saat setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Kehadirannya begitu mendebarkan, rasa kurang siap selalu menanguti diri saat tidak dapat menyambutnya dengan kehangatan yang sempurna, namun walau demikian kehadirannya selalu dirindukan.

Seseorang dengan ketulusan cintanya pada sang kekasih, tentu akan mempersiapkan segala hal demi menyambut kedatangannya. Bersihkan diri, lembutkan hati, beningkan jiwa dan kuatkan diri. Betapa bahagianya sang kekasih jika ia mendapati yang dicintainya menyambutnya penuh kehangatan dan persiapan.

Ternyata, cinta sang kekasih tidak akan bertepuk sebelah tangan, coba lihat apa ia bawa untuk sang kekasih hatinya:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah Subhanahu wa ta’ala berkata, “Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku” (HR. Muslim)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan diampunilah dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun” (HR. Ahmad dan An-Nasai).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al Quran; bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah secara tartil seperti yang engkau lakukan di dunia, karena manzilahmu terletak di akhir ayat yang engkau baca” (HR. Ahmad, Tirmidzi).

Semoga Allah sang maha pencinta, memberkahi Ramadhan kita kali ini, dengan memberikan kadi terindah dalam keredhoan, kasih dan sayangnya di Sorganya kelak, Amin…

ULAMA DAN JERUJI BESI

Nabi Yusuf memilih dipenjara dari pada harus menaati ajakan tuannya kepada kemaksiatan. Nabi Yusuf berkata: Wahai Robku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. (QS Yusuf: 33).

Imam Abu Hanifah pernah ditawari menjadi Qhadi namun dengan tegas beliau menjawab tidak. Kekuasaan politik yang saat itu dikuasi pemimpin yang zholim, akan memanfaatkan ketersohoran seorang Ulama demi mendukung kebijakan-kebijakan yang berada di luar batas keadilah. Akhirnya penolakan itu berhadiah penjara dan jeruji besi.

Khalifah Abu Ja'far pernah melarang Imam Malik untuk menyampaikan sebuah hadits, dengan alasan politis karena akan merugikan posisinya. Namun seorang Ulama sekelas Imam Malik paling pantang dibungkam dari kebenaran.  Bahkan setelah mendapatkan larangan tersebut, setiap kali beliau memulai majelis, hadis tersebutlah yang pertama kali beliau sampaikan, sehingga membuat Abu Ja'far marah. Kemudian Imam Malik dihadiahi sebuah hukman sehingga tanggannya kaku oleh kerasnya cambukan.

Imam Ahmad Bin Hambal lebih menyukai penjara dari pada harus menggadaikan aqidahnya kepada penguasa yang zhalim. Kekuatannya dalam mempertahankan akidah dan kebenaran menjadikannya syahid di dalam jeruji besi setelah menerima penyiksaan yang begitu berat.

Buya Hamka pernah mendekam di penjara karena fitnah, ketika beliau mencoba menyuarakan kebenaran. PKI yang saat itu berkuasa membuat Islam terpinggirkan yang akhirnya Presiden Soekarno membubarkan partai Islam Masyumi. Namun selama dipenjara Buya Hamka menghadiahi umat ini dengan sebuah kitab tafsir yang fenomenal, "Tafsir Al-Azhar".

-
Apakah dengan dipenjaranya para Ulama menjadikan mereka hina dan bungkam?. Tidak!! Bahkan mereka akan semakin dihormati dan dicintai umat. Semangat dakwah mereka tidak akan pernah terhalang oleh jeruji-jeruji besi, tidak akan pernah beku oleh dinginnya hawa pejara, tidak akan terhenti oleh kerasnya siksaan. Bahkan mereka semakin yakin, jalan itu semakin terlihat dan terang-benderang.

Penjara bukanlah tempat yang ditakuti oleh para Ulama, lembaran-lembaran sejarah telah mencatat tidak sedikit dari para Ulama dipenjara berhasil membakar semangat juang para pewaris dakwah setelahnya, dan tidak sedikit dari mereka telah menghasilkan karya besar dan fenomenal selama mendiami jeruji besi.

Ustadz saya dulu pernah menyampaikan sebuah Anekdok atau apalah namanya, beliau berkata" Antum belum dikatakan sebagai Ulama sebelum antum pernah mendiamai jeruji besi".

Mungkin benar apa yang beliau sampaikan, perjuangan para ulama akan selalu dihadapi dengan kepetingan penguasa dan nafsu kekuasaan dan hal tersebut adalah hal yang paling dibenci oleh para Ulama.

Para ulama tidak pernah mengkhawatirkan keselamatan diri mereka selama dakwah ini tegak kokoh berdiri. Jika mereka mati di atas kezholiman para penguasa, mereka akan tersenyum menyambut panggilan Robnya dalam kesyahidan, namun hati mereka menangis memikirkan nasib penerus dakwah yang mereka tinggalkan. Yang khawatir, jika mereka menyerah dari kezhaliman, akan menjadikan perjuangan ini melemah, karena para Ulama ibarat pembawa bendera dalam sebuah perperangan. Merekalah para ulama penyemangat juang para pencinta sorga.

* Kriminalisasi yang diterima Habib Riziq saat ini sudah lama saya bayangkan akan terjadi, saat-saat mula Si Penista agama mulai meracuni keharmonisan tatanan kerukunan di negeri ini.  Bahkan saya memprediksi jika saja Si Penista Hoax itu menang dalam pemilu Pilkada kemaren, kriminalisasi yang akan diterima para ulama akan lebih keji dari yang sekarang kita saksikan _Wallahu 'alam_. Namun Allah SWT maha kuasa dengan segala kehendaknya, Allah memenangkan pemimpin muslim.

Pada awal-awal kasus ini muncul, saya pernah menulis tulisan diatas. Melalui tulisan ini saya meyakini bahwa Ulama dan Jeruji besi dua sahabat yang tak terpisahkan. Bukan mereka para Ulama yang mengharapkan hal itu, akan tetapi perjuanganlah yang menuntut mereka untuk selalu bersahabat dengan jeruji besi.

HARAPAN TERBESAR

Bercita-cita membahagiakan kedua orang tua adalah sebuah cita-cita yang sangat mulia. Dalam setiap detik hidup, tidak ada yang mereka tunggu melainkan kesuksesan seorang anak. Namun tahukah kita, apa sebenarnya harapan terbesar setiap orang tua dalam hidup mereka terhadap anak-anaknya?

Memiliki pendidikan tinggi, title yang banyak dan gaji yang besar bukanlah inti dari harapan-harapan mereka. Bahkan Ibu saya tak paham apa itu Lc., MA., DR., ataupun Professor. Mereka tak paham apa itu Skripsi, Thesis atau Disertasi.

Lalu apa sebenarnya harapan terbesar mereka?

Seorang senior saya yang saat ini menempuh pendidikan Doktoral bercerita: "Alhamdulillah harapan terbesar ayah sudah saya penuhi sebelum beliau dipanggil sang maha kuasa. Dulu sebelum berangkat keluar negeri untuk kuliah, beliau selalu berharap ingin melihat saya tampil 'berkhotbah' dan 'mengimami' sholat berjamaah di mesjid dekat rumah". Alhamdulillah, betapa bahagianya beliau beberapa hari sebelum kepergiannya melihat saya berkhotbah tanpa teks dan mengimami sholat dengan bacaan terbaik sayayang telah lama saya persiapkan. Saat itulah saya melihat tangis haru beliau yang terakhir kalinya sebelum mereka meninggalkan kami selama-lamanya".

Dalam sebuah acara 'talk show', Walikota Bandung Kang Emil pernah menyampaikan satu harapan terbesar Ibunya yang belum bisa beliau penuhi sampai saat itu, yaitu sang Bunda ingin melihat Kang Emil berkhotbah pada hari Jumat dan mengimami sholatnya. –Semoga dimudahkan ya Kang, untuk memenuhi harapan Ibundanya tercinta-.

Begitu juga dulu saat saya masih bersekolah di Aliyah, salah satu harapan terbesar mereka saat itu adalah melihat saya berkhotbah di hari Jumat dan beliau dibelakang sebagai makmum mengaminkan Surat Alfatihah yang saya baca.

Itulah sebenarnya harapan terbesar setiap orang tua. Harapan mereka tidaklah muluk-muluk sebagaimana yang dipikirkan para anak. Menghajikan, mengumrohkan, memberikan tempat tinggal yang layak, rumah yang mewah, belanja tiap bulannya, keliling dunia dan banyak hal-hal besar yang sering dipikirkan para anak untuk membahagiakan orang tuanya yang sebenarnya itu bukanlah harapan terbesar mereka.

Apakah kita seorang Professor, Doktor, Presiden, Gubernur, Walikota, Bos sebuah perusahaan besar, ataupun seorang Ulama besar, mereka kadang tidak peduli dan tidak paham dengan itu semua. Namun yang mereka pahami, kita adalah seorang anak yang mereka gantungkan harapan-harapan terbesarnya dalam hidup pada kita anak-anaknya.

Yang mereka harapkan, bagaimana saat detik-detik terakhir nafas mereka, kita para anak hadir disamping mereka sambil membimbing 'mentalqinkan' mereka kalimat syahadat di telinga kanannya.

Yang mereka harapkan, kita hadir dalam memandikan jenazah mereka, sehingga orang lain tak perlu melihat aurat mereka dan tau aib kekurangan mereka.

Yang mereka harapkan, kitalah yang menyiapkan kain kafan bagi mereka dan memakaikan sebagai pakai terakhir yang akan mereka bawa mengahadap sang pencipta.

Yang mereka harapkan, kita berada dibarisan terdepan mengimami sholat jenazah mereka yang terakhir kalinya. Karena tidak ada lagi sholat yang akan menyertai mereka setelah itu.

Yang mereka harapkan, kitalah yang meletakkan mereka di pembaringan terakhirnya. Walau bebantalkan sebongkah tanah, namun saat anaknya yang membuatkannya, mereka berharap semoga Allah menggantikannya dengan bantal paling empuk yang tak pernah ada.

Dan harapan terakhir mereka adalah 'Doa' para anak yang menyertai mereka dalam setiap sujud anak-anaknya.


Siapapun kita, apapun gelar kita, seberapapun tinggi jabatan kita, tidak ada yang menjadi harapan terbesar setiap orang tua, melainkan kebahagiaan saat detik-detik terakhir dalam hidup mereka sebelum kalimat perpisahan perpisahan itu mereka ucapkan " Asyhadu Alla iIlaaha Illallaah, Wa Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah".