Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juni 2017

DOA IBU

Seorang berkata, " Saya tidak pernah keluar dari kampung tanah kelahiran saya untuk bekerja selama Ibu saya masih hidup".

Kemudian ia lanjut bercerita," Setamatnya dari kuliah, saya berazam untuk akan selalu dapat bersama Ibu setiap harinya walaupun itu hanya untuk ngobrol sejenak. Ibu dan Ayah adalah permata hati bagi saya, tidak mudah bagi mereka untuk membiayai hidup dan kuliah saya hingga sampai saat ini. Sekarang saya hanya punya Ibu, beliau juga sudah sangat tua sekali, dan saya ingin mendapatkan kesempatan terakhir untuk mencoba membalas kasih sayang yang pernah ia berikan pada saya, walau saya tau semuanya tak akan pernah lunas terbayar".

" Hingga suatu ketika saya mendapatkan tawaran bekerja di sebuah perusahaaan ternama, namun berada di luar kota yang tentunya akan membuat saya berjauhan dari Ibu, akhirnya saya tolak dan saya merasa cukup dengan pekerjaan yang saya rintis saat ini".

" Ketika masa untuk menikah telah datang, saya mencoba melamar seorang gadis teman kuliah saya dulu, namun gagal. Dia mensyaratkan agar saya tinggal bersamanya setelah menikah di tempat kelahirannya yang berjarak sangat jauh dengan tempat tinggal Ibu saya, tentu saya menolak. Akhirnya saya memilih wanita cantik yang berada dalam satu kota tempat tinggalku yang dengan itu saya bisa bertemu dengan Ibu setiap hari".

" Namun masyaallah luar biasa, pekerjaan yang saya jalani saat ini berkembang sangat pesat, hingga saat ini setelah dua puluh tahun wafatnya Ibu. Semua menjadi mudah dan berkah berkat doa Ibu". Kini Ia menjadi pimpinan sebuah perusahan besar di tanah Arab sana.
-

Itulah sepenggalan kisah yang saya dengar yang saya tidak tahu pasti kebenaran kisah tersebut. Namun ada satu pesan menarik yang disampaikan 

SIAPA YANG SAYA IKUTI ?

** Imam Syafi'i pernah ditanya," Wahai Imam, bagaimana kita mengetahui kebenaran di zaman penuh fitnah?"

Imam Syafi'i menjawab: " Perhatikan panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka akan menunjukkan siapa pengikut kebenaran".**

Disaat banyaknya ulama dihina, para ustadz dibenci, dan penyuara kebaikan dikatakan pemecah belah umat dan ditangkapi, maka ketahuilah mereka yang dihina, dibenci dan dikatakan pemecah belah umat itulah adalah petunjuk jalan kebenaran bagi kita, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi'i.  

Kebaikan dan kebenaran selamanya tidak akan pernah kosong dari perlawanan dan musuh, disaat kita melihat banyaknya para pembenci melancarkan serangannya kepada para Ulama, Ustadz dan mereka yang menyuarakan kebenaran, maka ikutilah jalan mereka yang dibenci tersebut karena merekalah pejuang kebenaran sesungguhnya berdasarkan pesan Imam Syafi'i.

Saat Ulama berkata," Selamatkan umat dari perusakan aqidah, haram hukumnya mengucapkan selamat natal dan memakai atribut-atribut natal". Kemudian kita melihat seseorang yang dianggap Ustadz mengatakan " Ulama ini pemecah belah umat dan tidak toleran", maka saat itu terlihatlah jalan yang terang bagi kita, siapa yang akan diikuti dan siapa yang akan ditinggalkan, bahwasannya kebenaran akan selalu dimusuhi dan dianggap pemecah belah umat.

Saat Ulama berkata," Syiah itu berbahaya bagi akidah kaum muslimin, bentengi akidah keluarga kita dari kesesatan syiah". Kemudian seseorang yang dianggap Ustadz berkata," Itu perkataan penebar kebencian", maka saat itu terang sudah jalan kita, mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.

Saat Ulama berkata," Penista agama harus dihukum dan dipenjara ", maka seseorang yang dianggap Ustaz berkata," Ah, kok masalah gituan dibesar-besarkan, ada unsur politik", maka saat itu terang sudah jalan kita, mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.


Begitulah seterusnya, sebuah kebenaran tidak akan pernah kosong dari penentang dan lawan. Maka kuatkanlah pijakan kaki kita berada dibarisan para Ulama yang menyeru kepada kebenaran. Karena jalannya para ulama adalah jalan keselamatan. 

MEMBANGUN MASA DEPAN

Masa depan sesungguhnya adalah saat nyawa tak lagi bersemayam di tubuh, jantung tak lagi berdetak dan liang lahat tertutup rapat. Kalau saja masa depan yang kita pahami sebatas hidup mewah dan punya rumah dan semua kebutuhan tercukupi, sungguh terlalu singkat itu semua, tapi bangunlah masa depan itu kokoh dan kekal di Surga nantinya.

Anak adalah aset masa depan yang paling berharga, mereka bisa menjadi penyelamat masa depan seseorang dari gerogotan api neraka dengan rahmat Allah, namun ia juga bisa menjadi penyeret mereka yang lalai dengan masa depan mereka (read: akherat) kepada panasnya api neraka. Seorang anak bisa menjadi musibah bagi orang tuanya, namun ia juga bisa menjadi rahmat dan penolong.
-
Seseorang pernah datang kepada Umar Bin Khatab  dan mengadukan anaknya,“Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku”.

Umar Bin Khatab pun berkata kepada sang anak, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada Ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orang tua”.

“Wahai Amirul Mukminin, Bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?”.

 “Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Quran”.

“Demi Allah, Ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku. Ibuku adalah hamba sahaya jelek, berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al (sejenis kumbang). Dan dia juga tidak mengajarkan Al-Quran kepadaku kecuali satu ayat saja.” 

Umar menoleh ke sang Ayah dan berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Enyahlah dari hadapanku!”.

Bangun masa depan dengan memberikan hak-hak anak:
·         Ibu yang baik.
·         Nama yang bagus.
·         Mengajari ilmu agama.

-
Wajah tanpa dosa, menyejukkan dan ngangenin.
Model spesial "Muhammad Ziyad Al Faza", semoga tumbuh menjadi anak yang sholeh.

NAK, ZAKATMU IBU SAJA YANG BAYAR YA ?

Benarlah pepatah mengatakan: "Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang panggolan"

*(Panggolan=Penggalan=Galah).
-
Tahun ini, sudah masuk tahun ke tujuh saya berlebarann jahu; tidak bersama orang tua dan keluarga.

Sedih?
Ya tentu…

Tapi saya selalu meyakini, suatu saat kebahagiaan itu akan kembali. Jika itu tidak di dunia, semoga Allah menggantikan kebahagian itu di akhirat kelak; kebahagian di atas kebahagiaan yang ada saat ini. Amin…
-
Kewajiban orang tua menanggung beban zakat fitrah anak-anaknya hanyalah sampai mereka baligh dan sudah bisa berusaha sendiri dalam hal mencari nafkah. Namun seringkali banyak orang tua selalu berharap anaknya tetap kecil sehingga mereka selalu dapat mencurahkan kasih sayang seutuhnya pada mereka, walaupun itu hanya dengan 2,5 kg beras zakat fitrah.

Sekarang saya sudah masuk seperempat abad, sudah tujuh tahun juga saya berlebaran dirantau, orang dan selama itu jualah selalu beliau mengatakan dan bertanya sehari sebelum Idul Fitri: "Nak, Zakat fitrahnya Ibu saja yang bayar ya?".
-
Saya sering kali merenung dalam balutan kesyukuran, begitu mulia Allah menciptakan kelembutan dan kemurnian cinta dalam hati seorang Ibu. Cintanya selalu hadir dengan utuh dan sempurna, walaupun terkadang terkadang banyak anak seringkali melupakannya.

Ibu adalah makhluk pemalu, Ia bahkan malu untuk meminta pada anaknya sendiri; darah dagingnya sendiri. Malu untuk minta tolong, malu untuk minta ini dan minta itu, karena mereka adalah mahkluk yang pemalu.

Yang ada adalah mereka selalu ingin memberi, memberikan yang mereka punya, memberikan cinta dan kasih sayangnya, memberi yang tak tampak maupun yang tampak.
-
Saya adalah seorang anak,
Anda adalah seorang anak,
Kita semua adalah seorang anak.

Saya ingin berpesan untuk diri sendiri dan kita semua para anak.
Jika saja mereka masih hidup, berikanlah kebahagian pada mereka dihari yang Fitri ini walaupun hanya sepabatas mendengar suara kita di  ujung telphon genggam.

Jika masih bisa untuk pulang dan berkunjung, pulang dan kunjungilah mereka. Jangan kesibukan kita pada dunia melupakan kita pada bakti yang seharusnya kita utamakan kepada mereka.

Jika kita sudah punya sedikit penghasilan, tawarkanlah untuk sekedar hanya membayarkan zakat fitrah untuk mereka, walaupu saya yakin mereka akan menolak dan akan meminta sebaliknya.

Jika kita adalah seseorang yang 'beruang', berikanlah pada mereka hadiah semampu yang kita miliki. Karena mereka tidak pernah melihat seberapa besar hadiah yang kita beri, namun mereka hanya melihat ada cinta dari sesuatu yang kita beri itu pada mereka.
-
Berikan kebahagian pada hati-hati mereka dihari yang telah Allah halalkan untuk kita semua berbahagia. Sampaikan salam, maaf dan kerinduan kepada mereka, karena itu jauh lebih cukup bagi mereka.

Semoga dihari nan fitri ini, tidak ada lagi kesedihan pada wajah mereka, saat anak-anaknya tak kunjung menelphon yang suara mereka selalu ia tunggu-tunggu, saat anak-anak yang tak kunjung datang bersilaturahim pada mereka pada hal "kalamai itam" sudah seharian mereka buatkan untuk menanti kedatangan mereka, saat anak-anaknya sibuk dengan dunia sehingga melupakan baktinya pada orang tuanya.

#Taqobbalallhu minna wa minkum.
#Kullu 'am wa antum bikhair.
#Mohon maaf lahir dan batin.



BAKTIMU PADA IBUMU; SORGAMU

Dua orang pemuda hidup bersama Ibu mereka, salah seorang dari keduanya adalah ahli ibadah yang menghabiskan malam-malanya untuk sholat tahajjud, sedangkan yang lainnya menghabiskan malam-malamnya hanya dengan memijiti kaki Ibunya sehingga ibunya tertidur.

Suatu ketika, saudaranya yang ahli tahajud menghampiri saudaranya yang masih sibuk memijiti kaki Ibunya dan ia berkata:
"Wahai saudaraku, tidakkah bisa kau luangkan sedikit dari waktu malammu untuk sholat dua rakaat dan memohon ampunan pada Allah?"

Saudaranya yang masih memijit kaki Ibunya berkata:
"Wallahi,,, memijit kaki Ibuku sepanjang malam sehingga beliau tertidur lebih saya cintai dari pada sholat semalaman seperti yang engkau lakukan. Bukankah berbakti kepadanya adalah sesuatu yang wajib sedangkan sholat malam adalah sesuatu hal yang sunnah?"

-

Cukuplah firman Allah SWT dan Hadis Nabi SAW dibawah ini menjadi alasan kenapa kita seorang anak wajib berbakti pada Ibu dan Bapak.

Dalam Al-Quran, perintah berbakti kepada Ibu Bapak lebih kurang terangkum dalam empat ayat berikut ini:

1.       Surat Al-Baqoroh, Ayat: 83.
"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada Ibu Bapak… "

2.       Surat An-Nisa, Ayat 36.
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…"

3.       Surat Al-An'am, Ayat 151.
"Katakanlah (Muhammad), "Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baiklah kepada ibu …"

4.       Surat Al-Isra', Ayat 23.
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".

-

Apa yang dapat kita pahami?

Ya, Allah selalu mengiringi hak_Nya untuk tidak disekutukan dengan hak makhluknya, dan merekalah Ibu Bapak kita dengan perintah untuk berbakti kepada keduanya. Hal ini menunjukkan kedudukan yang sangat mulia antara ketaatan pada Allah dan bakti kepada orang tua.

-

Dalam sebuah Hadis Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata:

"Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah amalan yang paling utama?.
Rasulullah SAW menjawab: Shalat pada waktunya.
Kemudian apa ya Rasulullah?
Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua.
Kemudian apa?
Beliau menjawab: Jihad fi sabilillah.

-

Allah dan Rasulnya memposisikan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua setelah ketaatan kepada Allah SWT, bahkan bakti pada Ibu Bapak lebih mulia dibandingkan dengan Jihad fisabilillah yang ganjarannya adalah Sorga tertinggi yang dimasuki ahlinya tanpa hisab.

Jika saja berbakti kepada kedua orang tua lebih mulia dari pada pahala jihad, kenapa kita masih mencari pintu sorga yang jauh, sedangkan jalan kesurga itu berada dekat dari kita??

-

Janganlah kita sia-siakan kesempatan meraih sorga_Nya saat pintu itu masih terbuka luas di depan kita. Sehingga seorang Ulama pernah menangis sejadi-jadinya yang sampai membuat murid-muridnya keheranan.

Saat beliau ditanya: "Wahai guru kami, apa gerangan yang membuatmu menangis sejadi-jadinya, yang mana hal seperti ini tak pernah kami saksikan sebelumya?"

Beliau menjawab: "Bagaimana aku tidak akan sedih, satu pintu sorga bagiku telah tertutup, dan pintu sorga lainnya belum tentu bisa ku dapatkan".

#Ya Rob, berikanlah kesempatan bagi kami untuk berbakti pada keduanya dan meraih sorgamu dengan bakti tersebut.

WAHAI PARA IBU, JIKA ENGKAU MARAH PADA ANAKMU

Imam As-Suyuti mengisahkan bahwasannya Imam Zamakhsyari, penulis tafsir fenomenal "Al-Kassyaf" hanya memiliki satu kaki akibat diamputasi setelah mengalami kecelakaan dari tunggangannya. Imam Zamakhsyari mengatakan, hal itu terjadi karena doa sang Ibunya yang diijabah Allah SWT.

Semasa kecilnya, Sang Imam memiliki seekor burung pipit dan ia mengikat kaki burung tersebut dengan benang. Saat bermain-main, burung tersebut terlepas dari tangannya dan terbang, ia pun mengejarnya sehingga ia memperoleh benang yang terikat pada kaki burung tersebut. Kemudian Zamakhsyari kecil menarik benang tersebut dengan kuat sehingga kaki burung tersebut patah sehingga terpisah dari badannya.

Melihat perilaku anaknya, Ibunda Zamakhsyari marah besar dan berkata: " Semoga Allah memotong kakimu sebagaimana engaku memotong kaki burung tersebut.

Ketika Imam Zamakhsyari tumbuh dewasa, kecintaannya pada ilmu mejadikannya selalu berpetuanglang dalam mencari ilmu. Saat menuju perjalanan ke Bukhara, ia jatuh dari tunggangannya dan kakinya patah, sehingga tidak mungkin lagi untu disembuhkan. Solusi akhir dari pengobatannya adalah kakinya harus diamputasi dan dipotong.
-
Wahai para Ibu…
Tahanlah perkataan anda kepada anak-anak saat marah.
Bisa jadi penyebab kegagalan mereka dalam pelajaran, kenakalan yang mereka perbuat, dan sulitnya mereka menerima nasehat; disebabkan oleh ungkapan dan umpatan jelek para Ibu yang secara sadar atau tidak sadar mereka ungkapkan saat memarahi anak-anaknya. Karena ungkapan jelek dalam kemarahan para Ibu bisa menjadi doa yang diijabah oleh Allah SWT.

Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda:

"Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah mendoakan buruk kepada anak-anak kalian, janganlah mendo`akan buruk kepada harta-harta kalian; janganlah sampai (doa buruk kalian itu) bertepatan dengan waktu Allah mengabulkan doa, oleh karenanya Allah akan mengabulkan doa (buruk) kalian tersebut." (HR. Muslim).

Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda:

"Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi." (HR Abu Daud).

-

Doakanlah setiap kebaikan kepada anak-anak kita walau dalam keadaan marah sekalipun. Bisa jadi doa kebaikan yang kita panjat saat memarahi mereka diijabah oleh Allah dan merubah buruknya tingkah laku anak-anak kita menjadi kebaikan dan kesuksesan.

Bukankan kita pernah mendengar, kalau dulunya Syeikh Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram saat ini juga anak yang nakal. Saat kanak-kanaknya, Syeikh Sudais kecil pernah memasukkan pasir pada makanan yang dihidangkan Ibunya yang baru saja selesai beliau masak.

Kebayangkan marahnya bagaimana?
Seharian masak capek-capek, belum lagi biaya yang dikeluarkan, namun Ibunda Sang Imam adalah Ibunda yang cerdas.

Beliau tidak marah??
Ya tentunya marah, namun marahnya dikendalikan kepada ungkapan yang positif yang mengantarkan Syeikh Abdurrahman As-Sudais menjadi Imam Besar Mesjidil Haram seperti saat ini. Ya, Allah SWT mengabulkan doa Ibundanya saat marah tersebut, beliau berucap sambil menahan amarah "Semoga Allah menjadikanmu Imam Mesjidil Haram".

Bayangkan jika saja saat itu Ibunda Syeikh Sudais berdoa dengan doa yang jelek dan Allah mengijabahnya. Mungkin saat ini kita tidak dapat mendengar suara merdu beliau saat mengimami jutaan jamaah di Masjidil Haram.
-
Wahai para Ibunda…

Doakanlah segala kebaikan kepada anak-anakmu walau dalam keadaan marah sekalipun. 

MENANTI RAMADHAN

Menanti hadirnya Ramadhan itu, ibarat menunggu kehadiran seorang kekasih saat setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Kehadirannya begitu mendebarkan, rasa kurang siap selalu menanguti diri saat tidak dapat menyambutnya dengan kehangatan yang sempurna, namun walau demikian kehadirannya selalu dirindukan.

Seseorang dengan ketulusan cintanya pada sang kekasih, tentu akan mempersiapkan segala hal demi menyambut kedatangannya. Bersihkan diri, lembutkan hati, beningkan jiwa dan kuatkan diri. Betapa bahagianya sang kekasih jika ia mendapati yang dicintainya menyambutnya penuh kehangatan dan persiapan.

Ternyata, cinta sang kekasih tidak akan bertepuk sebelah tangan, coba lihat apa ia bawa untuk sang kekasih hatinya:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah Subhanahu wa ta’ala berkata, “Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku” (HR. Muslim)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan diampunilah dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun” (HR. Ahmad dan An-Nasai).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al Quran; bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah secara tartil seperti yang engkau lakukan di dunia, karena manzilahmu terletak di akhir ayat yang engkau baca” (HR. Ahmad, Tirmidzi).

Semoga Allah sang maha pencinta, memberkahi Ramadhan kita kali ini, dengan memberikan kadi terindah dalam keredhoan, kasih dan sayangnya di Sorganya kelak, Amin…

HARAPAN TERBESAR

Bercita-cita membahagiakan kedua orang tua adalah sebuah cita-cita yang sangat mulia. Dalam setiap detik hidup, tidak ada yang mereka tunggu melainkan kesuksesan seorang anak. Namun tahukah kita, apa sebenarnya harapan terbesar setiap orang tua dalam hidup mereka terhadap anak-anaknya?

Memiliki pendidikan tinggi, title yang banyak dan gaji yang besar bukanlah inti dari harapan-harapan mereka. Bahkan Ibu saya tak paham apa itu Lc., MA., DR., ataupun Professor. Mereka tak paham apa itu Skripsi, Thesis atau Disertasi.

Lalu apa sebenarnya harapan terbesar mereka?

Seorang senior saya yang saat ini menempuh pendidikan Doktoral bercerita: "Alhamdulillah harapan terbesar ayah sudah saya penuhi sebelum beliau dipanggil sang maha kuasa. Dulu sebelum berangkat keluar negeri untuk kuliah, beliau selalu berharap ingin melihat saya tampil 'berkhotbah' dan 'mengimami' sholat berjamaah di mesjid dekat rumah". Alhamdulillah, betapa bahagianya beliau beberapa hari sebelum kepergiannya melihat saya berkhotbah tanpa teks dan mengimami sholat dengan bacaan terbaik sayayang telah lama saya persiapkan. Saat itulah saya melihat tangis haru beliau yang terakhir kalinya sebelum mereka meninggalkan kami selama-lamanya".

Dalam sebuah acara 'talk show', Walikota Bandung Kang Emil pernah menyampaikan satu harapan terbesar Ibunya yang belum bisa beliau penuhi sampai saat itu, yaitu sang Bunda ingin melihat Kang Emil berkhotbah pada hari Jumat dan mengimami sholatnya. –Semoga dimudahkan ya Kang, untuk memenuhi harapan Ibundanya tercinta-.

Begitu juga dulu saat saya masih bersekolah di Aliyah, salah satu harapan terbesar mereka saat itu adalah melihat saya berkhotbah di hari Jumat dan beliau dibelakang sebagai makmum mengaminkan Surat Alfatihah yang saya baca.

Itulah sebenarnya harapan terbesar setiap orang tua. Harapan mereka tidaklah muluk-muluk sebagaimana yang dipikirkan para anak. Menghajikan, mengumrohkan, memberikan tempat tinggal yang layak, rumah yang mewah, belanja tiap bulannya, keliling dunia dan banyak hal-hal besar yang sering dipikirkan para anak untuk membahagiakan orang tuanya yang sebenarnya itu bukanlah harapan terbesar mereka.

Apakah kita seorang Professor, Doktor, Presiden, Gubernur, Walikota, Bos sebuah perusahaan besar, ataupun seorang Ulama besar, mereka kadang tidak peduli dan tidak paham dengan itu semua. Namun yang mereka pahami, kita adalah seorang anak yang mereka gantungkan harapan-harapan terbesarnya dalam hidup pada kita anak-anaknya.

Yang mereka harapkan, bagaimana saat detik-detik terakhir nafas mereka, kita para anak hadir disamping mereka sambil membimbing 'mentalqinkan' mereka kalimat syahadat di telinga kanannya.

Yang mereka harapkan, kita hadir dalam memandikan jenazah mereka, sehingga orang lain tak perlu melihat aurat mereka dan tau aib kekurangan mereka.

Yang mereka harapkan, kitalah yang menyiapkan kain kafan bagi mereka dan memakaikan sebagai pakai terakhir yang akan mereka bawa mengahadap sang pencipta.

Yang mereka harapkan, kita berada dibarisan terdepan mengimami sholat jenazah mereka yang terakhir kalinya. Karena tidak ada lagi sholat yang akan menyertai mereka setelah itu.

Yang mereka harapkan, kitalah yang meletakkan mereka di pembaringan terakhirnya. Walau bebantalkan sebongkah tanah, namun saat anaknya yang membuatkannya, mereka berharap semoga Allah menggantikannya dengan bantal paling empuk yang tak pernah ada.

Dan harapan terakhir mereka adalah 'Doa' para anak yang menyertai mereka dalam setiap sujud anak-anaknya.


Siapapun kita, apapun gelar kita, seberapapun tinggi jabatan kita, tidak ada yang menjadi harapan terbesar setiap orang tua, melainkan kebahagiaan saat detik-detik terakhir dalam hidup mereka sebelum kalimat perpisahan perpisahan itu mereka ucapkan " Asyhadu Alla iIlaaha Illallaah, Wa Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah".

Minggu, 18 Desember 2016

KESUKSESAN DAKWAH

Bantulah kesuksesan dakwah dengan retorikan bicara yang baik dan pilihan kata yang menyentuh. Dakwah bukan hanya menyampaikan kebenaran secara harfiah ketelinga-telinga mad'u. Namun dakwah lebih kepada bagaimana pesan-pesan Ilahi tersebut sampai ke hati seseorang, yang kemudian dapat mendatangkan setetes embun penyejuk dalam hati-hati mereka.
Bagaimana mungkin hati seseorang akan tersentuh, jika kebenaran yang kita maksudkan disampaikan dengan bahasa yang tidak baik? Bukankah bahasa yang dipakai adalah salah satu unsur terpenting dalam kesuksesan dakwah?
Mulailah dakwah dengan menyentuh hati dengan indahnya tutur kata, maka insyaallah pesan-pesan kebaikan yang kita sampaikan akan mudah diterima oleh orang lain.
-
Saya sangat terkesan dengan sebuah buku kecil yang dulu pernah saya baca tujuh tahun silam setelah meminjamnya dari seorang senior. Dalam buku yang berjudul "Bagaimana Menyentuh Hati" tersebut dijelaskan, bahwasannya kesuksesan dakwah akan mudah dicapai dengan menyampaikan pesan-pesan Ilahi dengan cara menyentuh hati.
Jika anda sedikit punya tabungan, maka belilah atau pinjamlah buku ini. Karena pesan-pesan dalam buku ini begitu indah, dalam kiat-kiat "Bagaimana Menyentuh Hati". ( Ini adalah buku terjemahan yang diterjemahkan dari bahasa Arab dan ditulis oleh Ulama Mesir )
Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi para Da'i dan Ulama di persada Bumi ini.

Pemandangan Terindah


Tidak ada pemandangan yang paling indah di Indonesia seumur hidup ini yang saya lihat melainkan pemandangan hari ini di Monas. Wallahi… hati ini begitu terharu melihat jutaan umat manusia berkumpul dalam satu komando Ulama.
Awalnya saya pernah berpikir, Aksi Bela Al-Quran Jilid III ini tidak akan sebanyak Aksi Jilid II dulu. Karena rentangan waktu yang begitu dekat dan tentu akan menyulitkan masyarakat yang datang dari luar Jakarta.
Namun wallahi, saya benar-benar telah salah. Bahkan yang tidak pernah saya bayangkan terjadi. Puluhan ribu Umat Muslim dari Ciamis berjalan kaki demi sampai di Jakarta. Puluhan Ribu Umat Muslim dari Padang mencarter puluhan pesawat. Puluhan Ribu Umat Muslim dari berbagai penjuru daerah mencarter Bus, Kapal bahkan pesawat Terbang agar bisa sampai ke Monas hari ini.
Ketahuilah wahai dunia, tidak akan bisa satupun yang bisa menghalangi keinginan Umat Muslim jika panggilan jiwa dan Ilahi itu telah datang. Jangankan berjalan kaki, bahkan berenang melewati lautan luaspun jika mereka bisa, maka akan mereka lakukan.
Ya Allah, saksikanlah perjuangan saudara-saudar kami ini. Kumpulkanlah kami bersama para pejuang-pejuangmu di Sorga tertinggimu kelak. Kumpulkanlah kami bersama para pembela agamu. Amin…

WALLAHI... AKSI 212 ADALAH SYIAR



Aksi 212 adalah syiar bahwasannya Umat Islam adalah Umat yang akan selalu siap berada pada barisan terdepan untuk membela Agama dan Negara mereka.
Pemandangan di Monas saat ini barulah yang bisa hadir, anda bisa lihat bagaimana antusias masyarakat saat Kaum Muslimin dari Ciamis melintasi kawasan mereka. Semuanya turun kejalan memberikan makanan, perbekalan dan dukungan. Bahkan tidak sedikit yang menangis haru menyambut kedatangan mereka.
Aksi 212 adalah syiar bahwa umat islam adalah umat yang tidak akan berpikir panjang untuk mengeluarkan harta mereka demi memperjuangkan agama Allah. Bagi saya orang terkaya di Indonesia bukanlah mereka yang dirilis oleh media baru-baru ini yang punya harta triliunan juta dolar, namun mereka yang terkaya adalah umat muslim yang paling ringan tangannya memberi bantuan pada saudaranya dan agama.
Coba anda bayangkan banyak umat muslim yang menyiapakan ribuan bungkus makanan untuk para peserta Aksi, PO Bus yang di ancam busnya dibakar mengeluarkan sebuah pernyataan yang begitu menggugah " Saya rela kehilangan segalanya, dari pada saya menjadi musuh Allah". Masyarakat Muslim Padang mencarter puluhan pesawat yang saya rasa belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. Muslim Ciamis berjalan kaki ke Jakarta dan tak ada yang bisa menghalangi niat mereka.
Aksi 212 adalah syiar bahwasannya Umat Muslim di Indonesia sangat mencintai Ulamanya. Mereka selalu mendengar dan mengikuti instruksi para ulama. Mereka tidak akan pikir panjang untuk berbuat jika sudah di komandoi oleh para ulama.
Coba dengarkan orasi Habib Riziq sebelum masa bubar, "Siap Revolusi jika Ahok bebas?", dengarkan jawaban jutaan umat muslim "SIAP". Semua ini tidak akan mustahil terjadi, jika pemerintah masih melindungi penista Agama.
Aksi 212 adalah syiar bahwasannya Umat Islam adalah umat yang damai dan menjunjung tinggi kedamaian dan ketertiban.
Semoga Aksi ini menjadi saksi di depan pengadilan Allah SWT nantinya bahwa perjuangan saudara-saudara kita di Monas dan Jakarta ini insyaallah murni karena kecintaan pada Agama yang mulia ini.
______
Akhirnya TV ONE menjadi pahlawan dalam menyiarkan acara besar ini secara adil. Berkali-kali jamaah mengucapkan terimakasih pada TV ONE.
Dan berbeda dengan METRO TIPU yang selalu diusir dan diteriaki METRO TIPU. Semoga METRO TIPU bisa taubat memberitakan berita-berita bohong.