Minggu, 18 Desember 2016

GURU MENGAJI


Ada kesan di mata masyarakat, menjadi guru mengaji adalah pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Bahkan tak jarang mereka dianggap pengangguran yang tak bermanfaat bagi masyarakat.

Secara umum, mindset masyarakat dipaksa untuk menjadikan standar kesuksesan seseorang adalah ketika ia menjadi PNS. Sehingga ketika seseorang menjadi guru mengaji ada kesan bahwa ia adalah orang yang gagal.

Secara hitung-hitungan Matematika, masyarakat benar. Seorang pegawai akan mendapatkan aliran gaji bulanan, tunjangan bulanan, tunjangan hari raya, gaji 13, tunjangan transportasi, tunjangan makan dan tunjangan-tunjangan lainnya. Dengan kata lain seorang pegawai punya persediaan uang yang cukup untuk hidup di masa depan.

Bagi guru mengaji, boro-boro dapat uang gaji bulanan, bahkan sekali setahun saja kadang tidak. Bagaimana mereka akan mendapatkan gaji, kadang malah mereka berkorban harta untuk bisa tetap mengajar mengaji.

Orang tua lebih tertarik pada pendidikan yang menghasilkan uang. Les bahasa inggris 2 juta perbulan, biasa. Les matematika 1,5 juta perbulan, ringan. Les fisika 1 juta perbulan, kecil. Karena terawangan mereka telah jauh kedepan, " Kalau anak saya bisa Bahasa Ingris, pintar Matematika dan pintar Fisika, peluang kerjanya akan mudah dan bisa kaya".

Namun ketika uang iuran bulanan TPA yang hanya sepuluh ribu rupiah jatuh tempo, kadang mereka dengan enteng mengatakan," Katakan pada ustadznya, ngutang dulu". Subhanallah.

Kenapa bisa demikian? Karena mengaji bagi sebagian orang tua hanya sekedar pelepas tanggung jawab pada anak agar dapat memperoleh ijazah khatam Al-quran untuk kemudian dijadikan syarat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama, karena sekolah-sekolah favorit mensyaratkannya. Dan kahir-akhirnya juga uang.

Mendidik anak agar menjadi anak yang cerdas, berpendidikan tinggi dan bekerja yang layak adalah sesuatu yang sangat bagus. Namun jangan kita lupa, semua hal tersebut akan kita tinggal selepas berakhirnya masa hidup di dunia. Akhirnya yang dapat kita bawa ke kubur nantinya hanyalah nilai-nilai rohani dan cadangan amal dari mengaji dan kesinambungan dari nilai-nilai didikan subuh kita dan anak-anak kita dulunya.

Menjadi guru mengaji adalah pekerjaan yang paling mulia. Guru mengaji adalah orang yang paling banyak pahalanya disisi Allah yang tidak akan putus-putus.

Jika seorang guru mengaji mengajarkan satu surat Al-Fatihah saja pada seseorang, maka setiap kali orang tersebut sholat dan membaca surat Al-Fatihah, maka bagian pahala bagi sang guru mengaji akan ikut mengalir. Kemudian jika ia mengajarkan pada orang lain, maka sang guru mengaji juga akan mendapat ercikan pahalanya. Begitulah hingga hari kiamat. Mereka akan mendapatkan turunan pahala bak MLM yang marak saat ini.

Itu baru satu surat Al-fatihah, bagaimana kalau seorang guru mengaji mengajari Al-quran 30 juz penuh.

Memang secara hitung-hitungan matematika Manusia mereka akan kalah telak, tapi jika dipakai hitung-hitungan Matematika Allah, mereka menang jauh dari pekerjaan-pekerjaan yang lain. Karena ketahuilah, hitungan-hitungan hanya akan dipakai di dunia, sedangkan hitung-hitungan Allah akan dipakai di dunia dan akhirat.
-
Semoga rahmat dan karunia_Nya tetap tercurah kepada para guru mengaji dan guru-guru TPA kita yang telah mengajari Al-Quran dari Al-Fatihah hingga An-Nas dulunya.

Jika ada waktu, sempatkanlah mengunjungi mereka dengan pangkat dan gelar yang kita pegang saat ini. Dengan kedatangan kita, prestasi kita, jabatan kita yang ada saat ini dan kita menceritakan itu semua pada mereka, katahuilah tidak ada kebahagian yang mereka rasakan kecuali melihat prestasi dan keberhasilan kita.

Dan ketahuilah, mereka para guru mengaji tidak akan pernah meminta balas jasa. Hanya satu yang akan mereka harapkan dari kita yaitu doa dan permohonan ampun untuknya dalam sujud-sujud kita.

Mari kunjungi dan bersilaturahmi pada guru mengaji.


Selamat Hari Guru

Dialog Keumatan, Telaah Aliran-Aliran Sesat di Indonesia, bersama Ustaz Fahmi Salim, Lc, MA


Selasa, 8 Maret 2016 Asrama DD Mesir mendatangkan Ustaz Fahmi Salim, Lc, MA dalam acara bincang santai bertemakan " Tantangan dakwah di Indonesia, telaah aliran-aliran sesat dan peran ulama dalam membentengi umat ". Siapa yang tidak kenal dengan sosok beliau, seorang aktifis yang dikenal dari tulisan-tulisannya dalam mengkritik dan membendung arus aliran-aliran sesat di Indonesia dan salah satunya adalah JIL. Salah satu karya beliau yang cukup fenomenal yaitu sebuah buku yang berjudul " Kritik Terhadap Studi Al-Quran Kaum Liberal " yang merupakan terjemahan dari tesis beliau sewaktu menempuh Master di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Tesis ini kemudian mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Al-Azhar sehingga direkomendasikan untuk dicetak dan disebar keberbagai Universitas di Timur Tengah.
Kunjungan singkat beliau ke Kairo kali ini adalah dalam rangka mengajukan judul Disertasi Doktoralnya di Universitas Al-Azhar, tempat belaiu menuntuk dari jenjang S1 dan S2 dulunya. Walaupun dalam padatnya kesibukan yang beliau lalui, beliau masih menyempatkan berbagi cerita, pengalaman dan ilmu bersama para mahasiswa lainnya yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar.
Dalam penyampaiannya, Ustaz Fahmi yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Sekjen MIUMI dan Sekretaris Biro Dakwah MUI  Pusat, menjelaskan bahwa ada tiga peran sentral Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) dalam mengayomi umat. Yang pertama yaitu membentengi umat dari aqidah dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Maka dalam hal ini pada tahun 2007 MUI mengeluarkan sepuluh kriteria identifikasi aliran-aliran sesat di Indonesia. Kemudian sepuluh kriteria ini menjadi sandaran utama bagi setiap MUI diseluruh Indonesia dalam mengidentifikasi setiap aliran yang muncul kemudiannya. Yang kedua, membentengi umat dari mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obatan yang haram. Dalam hal ini MUI mengembangkan LP POM MUI untuk memeriksa produk-produk makanan, minumam, kosmetik dan obat-obatan dan menetapkan fatwa halal dan haramnya suatu produk. Kemudian yang ketiga, menjaga umat  dari transaksi keuangan yang haram. Dalam hal ini MUI membentuk DSN ( Dewan Syariat Nasional ) yang tugasnya mengawasi seluruh aktifitas perbankkan syariah Nasional dan kemudian mengeluarkan fatwa-fatwa terhadap produk perbangkan syariah.
Berbicara tentang aliran-aliran sesat, Ustaz Fahmi mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam mempertahankan ajaran mereka, namun keadaan Indonesia yang sangat luas dan keadaan pemerintah yang sangat lemah dalam membendung intervensi-intervensi asing untuk mengakui eksistensi keberadaan mereka atas nama Hak Asasi Manusia, Demokrasi, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat, akhirnya mereka seolah-olah terlihat kuat padahal tidak kuat. Tapi karena diliput, discover oleh media dan pendekan yang mereka pakai adalah pendekatan HAM, kemanusiaan, kebebasan dan sebagainya, maka seolah-olah hal ini menjadi legitimasi bagi mereka dalam menguatkan ajaran yang mereka bawa.
Berbeda dengan Mesir, aliran-aliran sesat tersebut tidak bisa berkembang pesat  karena Al-Azhar memiliki peran yang kuat dalam membentengi perkembangan aliran-aliran sesat tersebut.
Berbicara tentang Syiah, Ustaz Fahmi Salim mengatakan bahwasannya Syiah di Mesir dan Syiah di Indonesia tidaklah sama. Di Mesir, Syiah tidak bisa berkembang dan jumlah mereka sangat sedikit.
" Di Mesir, Syiah sangat tertekan karena Al-Azhar itu begitu menghegemoni. Karena Al-Azhar itu jelas dan tegas dan pemerintah berada di pihak Al-Azhar " kata Ustaz Fahmi.
Belau menambahkan bahwa di Mesir, Syiah jumlahnya sedikit dan tidak bisa berkembang. Berbeda dengan di Indonesia, sejak puluhan tahun telah puluhan bahkan ratusan buku ditulis untuk menjelaskan kesesatan syiah, namun walau demikian jumlah mereka terus meningkat, militansinya meningkat dan perjuangan mereka bukan hanya dalam ranah sosial kemasyarakatan saja, namun mereka juga membangun jaringan kampus dan jaringan keilmuan hingga mereka masuk dalam ranah politik. Mereka sangat terukur, rapi dan sistematis. Buku-buku mereka begitu banyak dan jelas-jelas telah menyimpang menyimpang dari ajaran islam yang berisi cacian dan makian hingga mengkafirkan.
Dalah kesempatan kali ini, Ustaz Fahmi juga berkomentar terhadap pidato yang disampaikan Syeikhul Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayyib ketika beliau berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan bahwa pidato Grand Syeikh di kantor MUI beberapa waktu lalu tersebut memang sedikit membuat gaduh, namun beliau memahami keadaan Grand Syeikh yang beliau meyakini bahwasannya Syeikh Ahmad Thayyib tidak memiliki data yang banyak terhadap perkembangan Syiah di Indonesia.
" Pidato Grand Syeikh terlihat kurang terukur dengan keadaan di Indonesia sebenarnya terhadap perkembangan syiah" Ungkap Ustaz Fahmi Salim.
Beliau memberi satu contoh kasus yang terjadi di Sampang. Ini adalah bukti bahwasannya perkembangkan syiah di Indonesia telah sangat meresahkan. Kaun Sunni di Sampang telah melakukan berbagai dialog, kesepakatan dan perundingan dengan orang-orang Syiah agar mereka tidak menyebarkan ajaran mereka. Namun setiapkali kesepakatan dibuat, maka setiap kali itu jugalah mereka melanggarnya. Akhirnya hal ini membuat keresahan di tengah masyarakat, maka terjadilah pengusiran terhadap pengikut Syiah. Hal ini terjadi disebabkan karena akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap keresahan yang telah diciptakan oleh orang-orang syiah itu sendiri.
Di akhir penyampainnya, Ustaz fahmi mengatakan bahwasannya kita tidak bisa menganggap remeh aliran sesat di Indonesia meskipun kecil, karena situasi saat ini telah memasuki zaman demokrasisasi, orientasinya adalah HAM. Beliau menasehati para hadirin, bahwasannya sebagai mahasiswa yang memiliki konsentrasi dalam bidang keagamaan, memang harus benar-benar mempersiapkan diri, menjadi kader-kader yang siap membela umat, siap berdakwah dan siap amar ma'ruf nahi mungkar dengan ciri khas Al-Azhar.
" Ciri khas Al-Azhar itu ada lima sebagaimana yang di sampaikan oleh Prof. DR. Hasan Syafii beberapa waktu yang lalu pada saya, Al-Azhar itu anti kekerasan, anti  mengkafirkan, anti tasyayyu', anti wahabi dan anti liberal" Ungkap Ustaz Fahmi di akhir pembicaraannya.
Pada sesi terakhir dalam dialog ini setelah melalui sesi tanya jawab, Ustaz Fahmi Salim menghadiahkan dua buku karya beliau yang berisi kritikan terhadap para pengagung kebebasan dan beberapa majalah kepada pengurus Asrama Dompet Duafa Mesir dan kemudian dilanjutkan dengan acara foto bersama. Acara ini berakhir pukul 18.15 CLT dan diakhiri dengan dengan sholat Maghrib berjamaah.


Saya Punya Yang Lebih Baik Dari Dunia dan Seisinya

Dalam buku berjudul "Ini Ayahku" yang ditulis oleh Asy-Syahid Syeikh Professor. Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Bouthy rahimahullah, beliau mengisahkan bagaimana sang Ayahanda Syeikh Mula Ramadhan Al-Bouthy mendidik anak-anaknya dari kecil.
Dalam buku setebal 200 halaman tersebut, beliau menceritakan bagaimana awal mula ayahnya membangun rumah tangga bersama ibunya, kemudian hijrah dari Kurdi ke Syiria, dan bagaimana mendidik anak-anaknya hingga beliau wafat.

Begitu banyak hikmah yang dapat kita ambil dari kisah perjalanan Ayahanda dari Syikh Bouthy dalam buku kecil tersebut. Diantara hal terpenting, bahwasannya "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya".

 Sebuah rumah tangga yang didasari dan dibangun dengan ketakwaan, maka anak keturunan yang lahir, tidak akan jauh berbeda dengan kondisi keimanan dan semangat ketakwaan orang tuanya.

Berhubungan dengan semangat pejuang " Subuh " dalam buku ini, Syeikh Bouthy menceritakan bagaimana sang Ayahanda selalu memperhatikan keseharian anak-anaknya mulai dari sejak subuh harinya.

Sepulang sholat Subuh  berjamaah di Mesjid, Sang Ayahanda akan mengumpulkan seisi rumah dan membaca wirid khusus bersama-sama yang selalu mereka baca selepas sholat subuh setiap harinya. Bahkan Syeikh Bouthy mengatakan, hingga saat beliau menulis buku ini beliau masih merutinkan membaca wirid yang diajarkan oleh sang Ayahanda dari kecilnya dulu.

Begitulah kalau nilai-nilai kebaikan jika sudah ditanamkan sejak dari kecil dalm diri seorang anak. Bak kata orang Minangkabau, "Ketek taraja-raja, lah gadang tarubah tido, lah tuo jadi parangai" (Waktu kecil jika sudah terbiasa, maka saat dewasa dia tak akan bisa dirubah dan saat tua akan menjadi perangai kebiasaan).  
-
Seorang senior saya yang dulunya belum menikah pernah berkata, "Saya ingin punya istri yang bangun subuhnya tidak telat, bahkan bisa bangun lebih awal dari saya dan bangunin tahajjud" ( Eaa.. =D ), dan sekarang beliau sudah menikah semoga sakinah dan mawaddah.

Memang benar, karena peradaban yang beken itu dibangun dimulai di waktu subuh. Begitu juga kata Aa Gym dan kabar gembira buat Bujangers para pejuang subuh yang akan mendatangi calon mertua.

Kata Aa Gym, "Nanti kalau calon mertua nanya sama kamu para bujangs, -Kamu punya apa, berani-benaninya lamar anak saya-".

Jawab saja, "Saya punya sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya" wkwkwkw…. =D .Ya itulah dua rakaat sebelum subuh.

Rasulullah SAW bersabda, "Dua rakaat sebelum subuh, lebih baik dari pada dunia dan seisinya"

Selamat berjuang Para Bujangs.



APAKAH INDONESIA TELAH KEMBALI DI JAJAH ??



Membaca pemberitaan akhir-akhir ini membuat hati saya ngilu-ngilu nyeri dengan keadaan Negri ini. disamping begitu banyaknya masalah dalam negeri, ternyata pemerintah masih mengimpor berkontainer-kontainer masalah dari luar. Sulit bagi saya untuk berhusnuzhan kepada pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Melihat realita ini semua, membuat saya kembali mencoba kembali menelisik dan membaca sejarah Negeri ini.

Sewaktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar dulunya, yang saya tau Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Akhir-akhir ini ada yang membantah kalau angka  itu terlalu berlebihan. Namun setelah saya memahami betul-betul maksud angka 350 itu, saya berani menyimpulkan angka tersebut tidak salah.

Memang benar, penjajahan secara fisik yang dilakukan Belanda pada rakyat Indonesia tidaklah selama 350 tahun, akan tetapi awal mula datangnya Belanda ke Indonesia adalah dengan menguasai perdagangan Indonesia. Pada saat ini sebenrarnya Belanda menjajah Indonesia secara ekonomi.

Dan saya merasa inilah yang telah terjadi kembali pada Indonesia saat ini. Kita telah kembali dijajah dalam perekonomian oleh China yang merupakan pintu masuk untuk menguasai secara totalitas kedaulatan Negara ini.

Mari kita coba kembali melihat sejarah Bangsa ini dan coba kita samakan dengan keadaan Bangsa saat ini dengan adanya China di Indonesia. Jangan sekali-kali melupakan sejarah dan jangan sekali-kali kita penha jatuh kedalam lubang yang sama.

Pada tahun 1511, Portugis menguasai Malaka yang merupakan sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan antara India dan China. Pada tahun 2016, pulau reklamasi di Jakarta dikuasai oleh Aseng-Aseng China dan Sembilan naga raksasa memulai membangun kekuatan-kekuatan melaui perusahanaan-perusaannya.

Pada tahun 1512, Portugis membangun benteng pertahanannya di Ternate yang menjadi awal mula pembangunan kekuasaanya di Indonesia. Pada tahun 2016, di Kalimantan Barat terdapat sebuah perusahaan China yang tidak bisa dimasuki oleh TNI sekalipun. Apakah itu merupakan benteng pertahanan mereka di Indonesia saat ini sehingga sulit di jangkau??

Pada tahun 1602 Belanda mendirikan VOC, sebuah perserikatan dagang perusahaan-perusahan Belanda. VOC bahkan boleh menjalankan perang dan diplomasi jika daerah tersebut strategis untuk diduduki. Pada Era pemerintahan saat ini antara 2014-2016, berdiri Sembilan Naga besar yang menguasai perekonomian dan perdagangan dalam Negara ini.

Maka dari tahun 1619 sampai 1684, VOC menjadi Negara dalam Negara di Indonesia yang dipimpin oleh  dua orang Gubernur Jan Pieterszoon dan Cornelis Speelman. Pada masa dua gubernur ini, beberapa pelabuhan di pulau Jawa diserahkan pada VOC.  Pada tahun 2015, Jakarta dipimpin oleh seorang Gubernur yang berdarah asli China dan kembali ingin berkuasa pada periode ke dua.  Pulau reklamasi yang seharusnya menjadi hak anak bangsa diberikan pada Aseng-Aseng China.

Seabad setelahnya, Belanda mencoba melakukan konsoliasi kekuasaan dari Sabang sampai Merauke dan itu tidak mudah. Belanda mendapatkan begitu banyak perlawanan seperti Perang Paderi, Perang di Ponegoro, Perang Aceh dan lain-lain. Apakah perlawanan seperti ini akan kembali terjadi di tubuh Bangsa ini?

Melihat kesamaan-kesamaan ini saya mulai khawatir bahwasannya usia kemerdekaan Indonesia tidaklah akan lebih dari satu Abad jika keadaan semacam ini tidak dengan segera di tindak lanjuti oleh orang-orang yang merasa cinta dengan Tanah Air ini.

Bahkan secara tidak lansung sebenarnya kita telah kembali dijajah sebagaimana VOC awal mulanya menjajah Indonesia. Begitu banyak perusahaan-perusahaan asing tegak kokoh di Indonesia, bahkan TNI saja tidak bisa menembusnya.

Tulisan ini bukan untuk maksud memprovokasi siapapun. Ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kecintaan saya pada Negeri tercinta ini. Selaku anak bangsa yang cinta tanah air, saya dan kita semua mesti mengkhawatirkan keadaan Bangsa ini. Karena kalau bukan kita yang menjaganya siapa lagi ???

Bangsa ini bukanlah hanya untuk kita hidup saat ini saja, sebab mereka yang hidup saat ini tidak lama lagi akan mati dan kembali ke pangkuan Rab nya. Tapi Negara ini mesti kita wariskan pada generasi selanjutnya dengan tetap dalam keadaan aman dan tenang. Jangan sampai, generasi setelah kita menganggap kita sebagai mereka yang gagal dalam mempertahankan kemerdekaan Negara ini di saat dulunya nenek moyang kita bertumpah darah dalam memperjuangkan Negara ini agar merdeka dari penjajahan.


Sekarang relakah kita kemerdekaan itu runtuh di tangan kita ?.

APAKAH ALLAH TELAH MENUTUP PINTU HATI KITA?



Coba perhatikan kisah berikut, yang hadits lengkapnya terdapat dalam Sahih Bukhari.

Ketika terjadi perang Yamamah, Umar Bin Khattab mengkhawatirkan hilangnya Al-Quran dengan banyaknya para huffaz yang syahid di medan pertempuran. Maka Umar menemui Abu Bakar As-siddiq dan setelahnya kemudian menemui Zaid Bin Tsabit untuk mengajukan usulan pengumpulan Al-Quran.

Coba perhatikan apa tanggapan Abu Bakar dan Zaid Bin Tsabit pada awalnya, ketika mereka mendengarkan usulan dari Umar Bin Khattab ,"Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang tidak pernah contohkan oleh Rasulullah SAW?".

Namun apakah berhenti sampai disana saja? Tidak…

Maka terjadilah dialog antara mereka, dan Umar Bin Khattab memberikan hujjah dan pengertian pada Abu Bakar dan Abu Bakar kemudian memberikan penjelasan pada Zaid Bin Tsabit, sehingga Allah SWT melapangkan hati mereka semua dan Al-Quran kemudian dikumpulkan.

---

Coba lihat apa kata Zaid Bin Tsabit ketika awal mendengar usulan Umar," Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW". Kemudian apa jawab Umar Bin Khattab "Wallahi, ini adalah sesuatu yang baik".

Ungkapan "Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah" saat ini begitu masyhur ditelinga kita. Namun kebanyakan orang hanya melihat hadits ini sepotong ini saja tanpa mencoba melihat apa yang dilakukan Umar Bin Khattab selanjutnya, yaitu memberikan hujjah dan alasan.

Jika kita mau mencoba membaca lanjutan haditsnya, maka kita akan mendapati perkataan Umar "Wallahi, ini adalah sesuatu yang baik" setelah semua hujjahnya disampaikan pada Abu Bakar dan Zaid Bin Tsabit.

 ---

Fenomena dewasa ini, kebanyakan orang hanya mencoba memahami hadits ini sepotong-sepotong saja sehingga mereka menutup pintu hujjah bagi orang lain. Namun ada juga sebagian orang yang mencoba membuka jalur diskusi, namun semuanya tetap juga akan kembali pada hujjah sepotongnya" Jika tidak dilakukan Rasulullah, jangan kerjakan, Bid'ah".

Ungkapan "Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW" ini bukanlah Hujjah mati, namun perlu ditimbang dengan dalil-dalil dan hujjah lain sebagaimana yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab, sehingga kita tau apakah hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW tersebut boleh dilakukan atau tidak.

Kalaulah seandainya perkataan ini menjadi Hujjah mati dan tidak bisa diberi ampun, tentu Umar Bin Khattab akan ber taraju' dari usulannya karena Hujjah yang diberikan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit adalah hujjah mati. Namun apa yang terjadi akhirnya, mereka menerima hujjah Umar dan akhirnya Umarpun mengungkapkan,"Wallahi,, ini adalah sesuatu yang baik".

---

Hari ini, sebagian orang tidak mau menjadi Abu Bakar dan Zaid Bin Tsabit dengan sempurna saat mendengarkan Hujjah dari Umar Bin Khattab. Walau awalnya mereka menolak karena kekhawatir , namun mereka membuka ruang hujjah bagi Umar dan menimbang semuanya dengan timbangan ilmu hingga Allah SWT melapangkan hati-hati mereka.

Maka jadilah Abu Bakar As-Siddiq dan Zaid Bin Tsabit dengan sempurna, jangan separoh-separoh. Disaat awalnya mereka menolak usulan Umar dan kemudian Allah melapangkan hati mereka dan menerima usulan Umar.

Disaat Abu Bakar dan Zaid Bin Tsabit mau menerima uslulan Umar berkat rahmat Allah dengan dilapangkannya hati mereka, namun saat ini banyak orang yang tidak pernah bisa menerima hujjah dan pendapat orang lain walaupun dengan hujjah yang sangat kuat sekalipun.


Apakah hal ini pertanda bahwa Allah SWT telah menutup pintu-pintu hati kita??? Wallahualam…